ProgramInovasi Farmasi Peduli Pelanggan (MASLINGGAN) ini berorientasi dan berfokus pada wawancara, saling tukar informasi dan monitoring terhadap pasien yang telah diberikan terapi obat di puskesmas melalui media tekhnologi informasi, baik melalui sarana SMS, telepon maupun media Whatsapp dalam pelaksanaan kegiatannya, yang diharapkan dapat dijadikan bahan kajian dan evaluasi untuk peningkatan mutu pelayanan Puskesmas.
PerwakilanTim Farmasi Kecamatan Cakung, Gustaprani Brajantoro, menjelaskan, inovasi tersebut terinspirasi dari wilayah Kecamatan Cakung sendiri dengan jumlah penduduk besar. "Tujuan inovasi ini meningkatkan dan pengawasan penggunaan obat secara rasional di masyarakat tugas pokok apoteker. Jadi ini yang spesial dari farmasi dan enggak ada di
Inovasidemi Pasien Puskesmas Date 26 Juni 2011 Mengalami kesulitan membaca tulisan dokter pada secarik resep menjadikan Irma Melyani Puspitasari (32) yang saat itu menjadi apoteker bertekad membuat perubahan. Resep tidak harus identik dengan tulisan steno—atau acak-acakan—dari para dokter yang hanya bisa dibaca oleh segelintir orang.
Xfm442N. inovasi dari puskesmas-puskesmas tersebut beragam, tak hanya soal layanan jemput bola atau pemeriksaan kesehatan dari rumah ke rumah yang banyak dilakukan terutama sejak pandemi ANTARA - Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives CISDI memberikan penghargaan kepada tiga puskesmas terpilih yang telah melakukan inovasi guna meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat. Chief Strategist sekaligus Plt. Chief of Primary Health Care PHC CISDI Yurdhina Meilissa mengatakan, penghargaan-penghargaan tersebut sebagai bukti bahwa puskesmas sebagai fasilitas layanan kesehatan primer yang paling dekat dengan masyarakat ternyata bisa membuat terobosan-terobosan yang bermanfaat bagi masyarakat. "Layanan kesehatan primer sering kali identik dengan bahwa puskesmas cuma bisa mengobati pusing, keseleo, masuk angin. Posisinya paling dekat dengan kita semua. Tapi karena terlalu dekat, terlalu banyak, jadi kadang-kadang tidak ada yang memperhatikan dan tidak identik dengan inovasi," ujar Yurdhina dalam acara peringatan Satu Dekade Pencerah Nusantara yang digelar hibrida, diikuti secara daring dari Jakarta, Sabtu. "Padahal, Pencerah Nusantara dalam sepuluh tahun terakhir menjadi saksi bahwa ada banyak sekali inovasi di lapangan yang tidak banyak yang tahu. Inovasi yang kami belajar darinya sehingga itu bisa kami replikasi dan kami sebarkan lebih jauh lagi," lanjutnya. Sebagai informasi, Pencerah Nusantara merupakan program yang dijalankan CISDI sebagai upaya untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan. Dalam sebulan terakhir, Yurdhina mengatakan pihaknya mencari inovasi-inovasi yang sudah berjalan di puskesmas di seluruh Indonesia. Hasilnya, ada 40 karya inovasi yang terkumpul dari berbagai daerah termasuk Riau, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua. Ia juga mengatakan inovasi dari puskesmas-puskesmas tersebut beragam, tak hanya soal layanan jemput bola atau pemeriksaan kesehatan dari rumah ke rumah yang banyak dilakukan terutama sejak pandemi COVID-19. "Ada soal peningkatan gizi, ada soal kesehatan ibu dan anak, pelibatan orang muda, sampai inovasi yang fungsinya merangkul orang-orang yang selama ini aksesnya terbatas pada layanan kesehatan," katanya. Ia melanjutkan, 40 karya yang sudah terkumpul kemudian dikurangi menjadi 12 besar. Setelah itu, dewan juri pun memutuskan tiga puskesmas dengan inovasi terpilih. Ketiga puskesmas itu adalah Puskesmas Cakung Jakarta Timur dengan inovasi Madu Besi Masyarakat Peduli Pembekalan Farmasi, Puskesmas Cluwak Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dengan aplikasi DISAPPU Digital Skrining Awal Penyakit Paru, dan Puskesmas Tagulandang Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara dengan inovasi pelayanan kesehatan ibu dan anak Munadia Si Mama Mempersiapkan Ibu. Adapun yang bertindak sebagai juri adalah Administrator Kesehatan Ahli Madya Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan dr. Wing Irawati, Administrator Kesehatan Ahli Muda/PMO Kesmas Kementerian Kesehatan dr. Rima Damayanti, dan pegiat kesehatan dan resiliensi dr. Sri Kusuma Hartani. "Pengalaman kami dalam menilai ini memang dari 12 itu sangat sulit dan memang semuanya inovasi yang sangat baik sekali. Dengan adanya transformasi layanan kesehatan primer, semua layanan primer khususnya puskesmas itu memang dituntut untuk berinovasi," kata Rima. "Apalagi dengan kondisi pandemi COVID-19 saat ini, semua berpikir agar bagaimana masyarakat itu tetap dapat terlayani dan dapat ditingkatkan aksesnya. Dan untuk ketiga yang juara ini saya melihat bahwa inovasi yang disampaikan ini betul-betul melihat dari latar belakang permasalahan yang ada," ujarnya. Baca juga Pemprov Jawa Barat apresiasi CISDI bantu tangani COVID-19 Baca juga CISDI rayakan satu dekade program Pencerah Nusantara Baca juga AIPI dorong pemerintah transformasi layanan kesehatan primerPewarta Suci NurhalizaEditor Muhammad Yusuf COPYRIGHT © ANTARA 2022
INOVASI FARMASI A. SARMA Sangat berbAhaya, Rawan, Masih Aman Untuk mencengah pemberian obat dan sediaan farmasi yang kadaluwarsa dan juga untuk mendukung prinsip FIFO FEFO. Program SARMA dilakukan di gudang farmasi dan ruang apotek uptd Puskesmas Kempo, kegiatan yang dilakukan berupa pengelompokan dan pelabelan kotak / tempat obat dan sediaan farmasi yang dilakukan setiap bulan / saat penerimaan obat. Pelabelan 1. Masa Exp. Date lebih dari 6 bulan. 2. Masa Exp. Date antara 3 – 6 bulan. 3. Masa Exp. Date kurang dari 3 bulan. Dengan adanya program SARMA ini diharapkan arus distribusi obat di Gudang Farmasi dan Apotek akan lebih efektif dan efesien, sehingga dapat mencegah kesalahan dalam pemberian obat Exp. Date kepada pasien. B. Peran Tenaga Kefarmasian dalam Gerakan Masyarakat Hidup Sehat melalui Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat GEMA CERMAT terutama bagi LANSIA di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kempo. C. PREMAN TOBAT Pemandangan Rumah Elok dengan Menanam Tanaman Obat.
Inovasi pelayanan publik dari Unit Farmasi Puskesmas Kedungwuni I yang dirilis pada bulan Agustus 2017. Program Inovasi Farmasi Peduli Pelanggan MASLINGGAN ini berorientasi dan berfokus pada wawancara, saling tukar informasi dan monitoring terhadap pasien yang telah diberikan terapi obat di puskesmas melalui media tekhnologi informasi, baik melalui sarana SMS, telepon maupun media Whatsapp dalam pelaksanaan kegiatannya, yang diharapkan dapat dijadikan bahan kajian dan evaluasi untuk peningkatan mutu pelayanan Puskesmas. LATAR BELAKANG PROGRAM MASLINGGAN Rata rata jumlah kunjungan di Puskesmas Kedungwuni I sekitar 100 pasien per harinya, namun dari jumlah diatas rasio ketersediaan jumlah tenaga kesehatan, khususnya tenaga petugas pengelola obat masih terbatas. Hal ini mengakibatkan kontak komunikasi dengan pelanggan terutama perihal kelolaan dan edukasi seputar obat dirasa kurang intens, kurang efektif dan tidak optimal. Dan tentu saja hal diatas tersebut dapat berpengaruh pada penilaian pelanggap secara tidak langsung terhadap kualitas pelayanan pengobatan di Puskesmas. Hal diatas inilah yang mendorong kami untuk segera merumuskan upaya inovatif yang terkoordinasi untuk mensiasati celah komunikasi yang ada antara petugas dengan pelanggan.. Sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi pelayanan serta meningkatkan kepuasan pelanggan terhadap pelayanan puskesmas secara umum dan pelayanan dari Unit Farmasi secara khusus. MONITORING DAN KONFIRMASI APA SAJA YANG DIPRIORITASKAN? 1. Monitoring ketepatan cara konsumsi obat yang telah diberikan pada pasien. 2. Memantau kondisi pasien setelah minum obat. 3. Memantau dan menindak lanjuti adanya kemungkinan keluhan baru maupun efek samping setelah mengkonsumsi obat. 4. Mengukur tingkat kepuasan pelanggan. TUJUAN UTAMA MASLINGGAN Tidak terjadi kesalahan dalam pemberian obat, dosis serta cara konsumsi obat. Tidak terjadi efek samping serta keluhan tambahan pada klien setelah mengkonsumsi obat. Meningkatkan kepuasaan dan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas Kedungwuni I. MANFAAT PROGRAM MASLINGGAN Pelanggan Puskesmas Kedungwuni I mendapatkan pelayanan kesehatan tidak hanya saat berada di gedung pelayanan Puskesmas saja, namun berlanjut hingga saat pelanggan berada dirumah. Petugas pelayananan dari dan di puskesmas akan mampu mengukur tingkat efektifitas serta mengevaluasi kualitas pelayanan yang diberikan, dan mampu menganalisa sejauh mana tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan dan pelayanan yang telah dlakukan petugas dari kondisi terakhir klien melalui komunikasi dua arah antara tim MASLINGGAN dengan klien/keluarga. STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS MENURUT PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 30 TAHUN 2014 1. Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian; 2. Menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian; dan 3. Melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan Obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien patient safety. GARIS BESAR PELAYANAN FARMASI KLINIK DI PUSKESMAS KEDUNGWUNI I Pengkajian resep, penyerahan Obat, dan pemberian informasi Obat Pelayanan Informasi Obat PIO Konseling Pemantauan dan pelaporan efek samping Obat Pemantauan terapi Obat; dan Evaluasi penggunaan Obat Anda bisa mendownload leaflet Program Inovasi Farmasi Peduli Pelanggan dengan meng-klik tombol download dibawah ini
RENCANA PERBAIKAN INOVATIF DAN TINDAK LANJUT TERHADAP HASIL EVALUASI NO KEGIATAN PROSES KEGIATAN KEGIATAN EVALUASI 1 KIA MARCUSUAR Melayani sepenuh hati remaja,calaon pengantin CATIN pasangan usia subur,sehat ibu hamil anak dan keluarga – Turun lapangan – Jemput bola NO 148/SK/ADMEN/UPT-PUS MEL/III/2018 2 GIZI MARI PERGI MARI PERBAIKI GIZI – Kunjungan rumah – Diskusi dan Tanya jawab NO 149/SK/ADMEN/UPT-PUS MEL/III/2018 4 IMUNISASI IBER Imunisasi Berjalan – Turun lapangan – Jemput bola NO 149/SK/ADMEN/UPT-PUS MEL/III/2018 5 PTM MERIAH Mari enyahkan asap rokok dari rumah /instansi – Inspeksi ke rumah atau instansi pemerintahan lurah /camat – Pemasangan spanduk di instansi pemerintahan 7 POLI GIGI KAPE PAGI Kartu Petunjuk Setelah Pencabutan Gigi – Pencetakan kartu petunjuk setelah pencabutan gigi – Mengedukasi pasien secara langsung – Memberikan kartu petunjuk setelah pencabutan gigi kepada setiap pasien yang telah melakukan pencabutan gigi. 8 FARMASI BERES OBAT Beritahu Efek Samping Obat – Mencetak form/label yang berisi tentang efek samping obat. – Mengedukasi pasien tentang efek samping obat secara langsung melalui pelayanan infomasi obat. – Memberikan form/label yang berisi tentang efek samping obat kepada setiap pasien yang mengambil obat. 9 FARMASI CAPÉ OBAMA Cara Penyimpanan Obat di Rumah – Mencetak leaflet yang berisi tentang cara penyimpanan obat di rumah. – Mengedukasi pasien tentang cara penyimpanan obat di rumah secara langsung melalui pelayanan infomasi obat. – Memberikan leaflet yang berisi tentang cara penyimpanan obat di rumah kepada setiap pasien yang mengambil obat.
– Di tengah era disruptif pelayanan kesehatan Indonesia, dibutuhkan inovasi farmasi klinik untuk meningkatkan kualitas terapi obat dalam pelayanan kesehatan. Selain penerapan teknologi, dibutuhkan eksistensi sumber daya manusia profesi apoteker mengingat profesi ini merupakan garda terdepan dalam mengawal terapi obat yang efektif dan efisien. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Keri Lestari, Apt. dalam Prosesi Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar Prof. Keri dalam bidang Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur Nomor 35 Bandung, Jumat 6/12. Prof. Keri membacakan orasi ilmiah berjudul “Inovasi Farmasi Klinik untuk Meningkatkan Kualitas Terapi Obat di Tengah Era Disruptif Pelayanan Kesehatan di Indonesia”. Dunia kesehatan di tanah air tak luput dihadapkan pada persoalan dan tantangan menghadapi era revolusi industri dan Selain pemanfaatan IoT, interaksi baru dalam bentuk kolaborasi antar profesi tenaga kesehatan interprofessional collaboration menjadi inovasi untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. Menurut Prof. Keri, hingga saat ini, pemenuhan tenaga apoteker di semua fasilitas kesehatan, terutama puskesmas, masih menjadi tantangan tersendiri bagi peningkatan kualitas pelayananan kesehatan. “ Inovasi Farmasi Klinik menginisiasi lahirnya model interaksi baru tim kesehatan yang lebih inovatif dan masif, yaitu penguatan kapasitas apoteker sebagai bagian penting tim pelayanan kesehatan dalam meningkatkan keamanan pasien patient safety dan kualitas pelayanan kesehatan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar Prof. Keri yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Riset, Pengabdian Pada Masyarakat, Kerja Sama, dan Korporasi Akademik Unpad. Dikatakan Prof. Keri, dunia kesehatan di tanah air tak luput dihadapkan pada persoalan dan tantangan menghadapi era revolusi industri dan Selain pemanfaatan IoT, interaksi baru dalam bentuk kolaborasi antar profesi tenaga kesehatan interprofessional collaboration menjadi inovasi untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. “Dalam menghadapi tantangan tersebut, diperlukan adanya penguatan profesi apoteker sehingga eksistensinya tidak lagi diragukan bahkan dipertanyakan,” ujar Prof. Keri. Prof. Keri menjelaskan, keilmuan bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik mendasari kompetensi apoteker dalam pelayanan kesehatan dan penemuan obat baru. Melalui kajian Farmakologi, apoteker mengetahui bagaimana suatu bahan kimia/obat berinteraksi dengan sistem biologis, khususnya mempelajari aksi obat di dalam tubuh. Sedangkan kajian Farmasi Klinis mendasari interaksi apoteker dan pasien untuk mengoptimalkan terapi obat, meningkatkan standar kesehatan & kualitas hidup, kebugaran wellnes, dan pencegahan penyakit, sesuai filosofi asuhan kefarmasian atau pharmaceutical care. Berdasarkan pengalaman riset pengembangan obat baru dan pelayanan praktek kefarmasian, Prof. Keri mengungkapkan bahwa keilmuan farmasi yang berorientasi pasien patient oriented dan berorientasi produk product oriented saling melengkapi dalam praktek profesi Apoteker. “Hal ini berkaitan dengan bagaimana kita sebagai apoteker dapat memilihkan produk yang paling cocok sesuai dengan kondisi pasien dilihat dari bentuk sediaan, rute pemberian obat, tipe obat, jumlah obat, dosis, jumlah obat yang diserap dan dimetabolisme, serta inetraksi obat,” ujarnya. Dengan adanya keterkaitan antara product oriented dan patient oriented dapat meningkatkan efektivitas obat sebagai produk dalam menyembuhkan pasien, dimana pengobatan akan lebih tepat sasaran dan user friendly. Salah satu penelitian Prof. Keri adalah pengembangan stevia sebagai minuman manis untuk pasien diabetes. Melalui uji aktivitas antidiabetes, teh stevia diketahui dapat mengendalikan kadar gula dalam darah. Ramuan herbal teh stevia ini telah dipatenkan dengan merk TehDia dan dihilirisasi bekerja sama dengan PT DPE serta mendapatkan izin edar dari BPOM. Penelitian lainnya yaitu pengembangan tablet ekstrak biji pala Myristica fragrans Houtt. sebagai antidiabetes dan antihiperlipidemia. Pengembangan obat baru ini telah dilakukan sejak tahun 2009, didukung oleh Kemenristekdikti dan Kementerian Kesehatan RI. Saat ini hasil penelitian tersebut telah tercatat di Kementerian Kesehatan sebagai bahan baku obat baru bekerja sama dengan PT Kimia Farma Tbk untuk selanjutnya dikembangkan dengan nama produk “Glucopala”. “Pengembangan nutrasetikal TehDia dan juga Kaplet Glukopala merupakan contoh penerapan ilmu farmakologi dan farmasi klinis yang tidak hanya berfokus pada pasien patient oriented tetapi juga pada produk product oriented. Product oriented juga tidak selalu berbicara tentang obat yang sifatnya kuratif, tetapi bisa juga mengarah ke pangan fungsional, karena pelayanan kesehatan bukan hanya berbicara tentang fenomena sakit,tetapi juga fenomena sehat,” ujar Prof. Keri. Sumber Prof. Dr. Keri Lestari, “Hadapi Era Disuptif, Inovasi Farmasi Klinik dan Penguatan Apoteker Dibutuhkan”
inovasi farmasi di puskesmas