Padazaman dahulu ziarah dipahami yaitu untuk meneruskan kebiasaan lama, yaitu pemujaan selain Allah yang kemudian dilarang dalam ajaran Islam. (Soekmono,1973:85). Makam Sultan Hadiwijaya sebagai salah satu tempat wisata letaknya di Desa Gedongan Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen yang biasanya ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai
AyahKang Said, KH Aqil Siroj, adalah pengasuh Pesantren Kempek, salah satu pesantren penting dalam sejarah Cirebon dan Indonesia. Dalam satu tahun (2017 - 2018 ), Presiden Joko Widodo dua kali
BukuBiografi La Nyalla Mattalitti. Pemilihan Miss Dunlopillo ia harus mengeluarkan Rp 9.000 untuk ongkos perjalanan dari rusun ke tempatnya kerja di Pasar Gedongan. "Kalau dihitung-hitung
Umrah2003 Pah, Bapak and Mak went for Umrah in 2003. Mak died the following year, on 5 June 2004. Bapak died 5 years later, on 8 March 2009. Pah died 14 years later, on 16 December 2017.
Epaperedisi 20 desember 2013. E-mail harianjoglosemar@ Pelanggan 0271-5866334. NAYPYITAWâTim nasional (Timnas) Indonesia U-23 akan menantang Timnas Thailand di pertandingan
lXL0wR. Paru le 5 mai 2021 Kiosque Prix Français François GenÂdron dĂ©tient un record de longĂ©vitĂ© de 42 ans comme Ă©lu en poliÂtique quĂ©bĂ©Âcoise. Il a dirigĂ© onze minÂistĂšres et obtenu les presÂtigieux titres de vice-preÂmier minÂistre du QuĂ©bec et de prĂ©siÂdent de lâAssemblĂ©e nationale. CepenÂdant, lâex-dĂ©putĂ© dâAbitibi-Ouest est beauÂcoup plus que des staÂtisÂtiques. Aujourdâhui retraitĂ© de la poliÂtique, mais touÂjours trĂšs actÂif, il a accepÂtĂ© dâexposer sa vie perÂsonÂnelle et proÂfesÂsionÂnelle. Sans langue de bois, il offre sa vision de vastes pans de lâhistoire du QuĂ©bec des cinquante derniĂšres annĂ©es et il partage ses anecÂdotes avec les grands noms de la poliÂtique quĂ©bĂ©Âcoise et canaÂdiÂenne quâil a cĂŽtoyĂ©s de trĂšs prĂšs ou de loin.
Daftar Isi 1. Riwayat Hidup dan Riwayat Wafat 2. Sanad Ilmu dan Pendidikan Guru-guru 3. Kisah Teguh dalam Memiliki semangat yang Istiqomah dalam Ibadah 4. Mengasuh Pesantren 5. Referensi 1. Riwayat Hidup LahirKH. Jaâfar Shodiq Aqil Siroj, akrab dipanggil Buya Jaâfar oleh para santrinya lahir di komplek Pondok Pesantren Kempek Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon pada tanggal 1 Juni 1951, beliau merupakan anak sulung dari 5 bersaudara pasangan KH. Aqil Siroj Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon dengan Ny. Hj. Afifah Harun, putri pendiri Pondok Pesantren Kempek, KH. Harun Abdul antara saudara-saudara beliau adalah KH. Said Aqil Siroj Ketua Umum PBNU Masa Khidmah 2010-2021, KH. Muhammad Mushtofa Aqil Siroj, KH. Ahsin Syifa Aqil Siroj KH. Niamillh Aqil Siroj. Riwayat KeluargaKH. Jaâfar Shodiq Aqil Siroj menyempurnakan separuh agamanya dengan menikahi Ibu Ny. Hj. Daimah binti KH. Nashir Abu Bakar yang merupakan sepupu beliau dari jalur ibu, dari pernikahan ini beliau dikaruniai putra dan putra yang kelak menjadi penerusnya, yakni Ny. Hj. Thoâatillah Jaâfar KH. Ahmad Zaeni Dahlan, Lc., Izzat Muhammad Abir Azra Larasati KH. Muhammad bin Jaâfar Ny. Najhah Barnamij binti KH. Bisyri Imam Gedongan Ummu Aiman Jaâfar KH. Ahmad Nahdli bin Jaâfar Ny. Upi Diana Sari, Kaliwungu Aqilah Jaâfar Ust. Ashif Shofiyullah, Hamid bin Jaâfar NasabBerdasarkan silsilah nasab KH. Jaâfar Shodiq Aqil Siroj, beliau masih merupakan dzurriyah Rasullullah yang ke-32 dengan urutan nasabnya sebagai berikut Nabi Muhammad SAW Fatimah Az-Zahra Al-Imam Sayyidina Hussain Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Muhammad Al Baqir bin Sayyidina Jaâfar As-Sodiq bin Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid Isa Naqib Ar-Rumi bin Ahmad al-Muhajir bin Sayyid Al-Imam Ubaidillah bin Sayyid Alawi Awwal bin Sayyid Muhammad Sohibus Saumiâah bin Sayyid Alawi Ats-Tsani bin Sayyid Ali Kholiâ Qosim bin Muhammad Sohib Mirbath Hadhramaut Sayyid Alawi Ammil Faqih Hadhramaut bin Sayyid Amir Abdul Malik Al-Muhajir Nasrabad, India bin Sayyid Abdullah Al-âAzhomatul Khan bin Sayyid Ahmad Shah Jalal Ahmad Jalaludin Al-Khan bin Sayyid Syaikh Jumadil Qubro Jamaluddin Akbar Al-Khan Al Husein bin Sayyid Ali Nuruddin Al-Khan Ali Nurul Alam Sayyid Umdatuddin Abdullah Al-Khan bin Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatullah Pangeran Pasarean Pangeran Muhammad Tajul Arifin Pangeran Dipati Anom Pangeran Suwarga atau Pangeran Dalem Arya Cirebon Pangeran Wirasutajaya Adik Kadung Panembahan Ratu Pangeran Sutajaya Sedo Ing Demung Pangeran Nata Manggala Pangeran Dalem Anom Pangeran Sutajaya ingkang Sedo ing Tambak Pangeran Kebon Agung Pangeran Sutajaya V Pangeran Senopati Pangeran Bagus Pangeran Punjul Raden Bagus atau Pangeran Penghulu Kasepuhan Raden Ali Raden Muriddin KH. Raden Nuruddin KH. Murtasim Kakak dari KH Mutaâad leluhur pesantren Benda Kerep dan Buntet KH. Said Pendiri Pesantren Gedongan KH. Siradj KH. Aqil KH. Jaâfar Shodiq WafatKH. Jaâfar Shodiq Aqil Siroj kembali keharibaanAllah SWT pada hari Selasa tanggal 1 April 2014 atau bertepatan dengan tanggal 1 Jumadil Akhir 1435 H pukul WIB, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat RSPAD Gatot Soebroto Jakarta karena sakit. 2. Sanad Ilmu dan Pendidikan PendidikanKH. Jaâfar Shodiq Aqil Siroj mengawali pendidikannya dengan mengaji di Pondok Pesantren Kempek sampai mengkhatamkan Al-Qurâan kepada paman beliau, KH. Umar Sholeh dan Alfiyah Ibn Malik dibawah bimbingan ayahanda beliau langsung yakni, KH. Aqil Siroj, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di beberapa pesantren seperti Pondok Pesantren Lirboyo 3 Tahun Pondok Pesantren Sarang 1 Tahun Pondok Pesantren Tanggir 3 Tahun Ngaji Pasaran Ngalap Berkah di Ponpes Mranggen, Salatiga, Kaliwungu dan ponpes lain di Jawa Timur Guru-guru KH. Aqil Siroj Kempek KH. Umar Sholeh Kempek KH. Mahrus Ali Lirboyo KH. Marzuki Dahlan Lirboyo 3. Kisah Teladan Teguh dalam pendirianSetelah ayahanda, Kyai Haji Aqiel Siroj berpulang ke Rahmatullah, kepemimpinan pesantren diambil alih olehnya, sebagai anak yang pertama beliau memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengasuh Pondok Pesantren KHAS dulu MTM dan terlebih lagi keluarga. Hal ini sesuai dengan dawuh adiknya, yakni Romo Kyai Haji Musthofa AqielۧÙÙÙŰŻ ۧÙۧÙۚ۱ ÙÙ Ù
ÙŰČÙŰ© ۧÙۧPutra sulung itu kedudukannya seperti BapakDalam menjalani amanat tersebut, Buya Jaâfar adalah sosok yang tegas dalam memilih. Ia tidak berbelit-belit dan bila sudah berkata A beliau akan tetap dalam keteguhanya mengatakan A. Memiliki semangat yang tinggiBuya Jaâfar juga dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat yang tinggi dalam hidup dan seorang pekerja keras. Beliau pernah berpesan pada santrinya agar terus bekerja keras untuk mengejar cita-citanya. âJangan berharap sukses jika tidak mau capek dan lelah,â pesan Buya Jaâfar pada santri-santrinya. Semangat ini juga lah yang membawa pesantren KHAS Kempek di tangan beliau mengalami kemajuan pesat, hingga menghasilkan banyak perkembangan. Di antara perkembangan tersebut adalah sebagai berikut Pada tahun 1996, ponpes KHAS Kempek yang waktu itu masih bernama Majelis Tarbiyatul Mubtadiien membuka sekolah MTs Terbuka untuk mengikuti tuntutan perkembangan zaman, yakni wajib belajar formal 9 tahun kala itu. Dan pada tahun 2002, sekolah terbuka tersebut resmi menjadi MTs KHAS Kempek. Setelah itu, dibangun pula MA KHAS Kempek pada tahun 2003 dan SMP KHAS Kempek pada tahun 2009. Pada awalnya, pesantren Kempek didirikan khusus untuk para santri yang fokus mengkaji kitab kuning. Akan tetapi kalau zaman sekarang pondok pesantren masih seperti itu, maka kemungkinan besar minat santri untuk belajar di Kempek akan semakin berkurang karena disamping santri yang notabanenya adalah mengkaji kitab kuning juga harus mengikuti perkembangan dari inisiatif itulah, Abuya Jaâfar mereformasi untuk kegemilangan pesantren Kempek dengan menambahkan kurikulum wajib belajar formal. JujurDawuh beliau yang populer adalah âSantri aja bulit, aja menang dewekâ. Santri jangan curang, jangan menang ini jarang dimiliki oleh orang lain. Sampai orang terdekatnya pun mengakui bahwa beliau adalah sosok yang sangat jujur. Saking jujurnya beliau tak pernah sembarangan dalam mengatur keuangan. Uang pondok yang dipegang oleh beliau sangat rapih dan tertib tak pernah disatukan dengan uang milik pribadinya, agar lebih berhati hati dalam menggunakan hak milik sendiri. KH. Muh. Musthofa Aqiel pernah menyebutkan hadis Nabi yang berbunyiŰčÙÙÙÙÙÙÙÙ
Ù ŰšÙۧÙŰ”ÙÙŰŻÙÙÙ ÙÙۧÙÙÙÙ Ű§ÙŰ”ÙÙŰŻÙÙÙ ÙÙÙÙŰŻÙÙÙ Ű§ÙÙÙÙ Ű§ÙÙŰšÙ۱ÙÙ Ű§ÙÙÙÙ Ű§ÙÙŰšÙ۱ÙÙÙÙÙÙŰŻÙÙÙ Ű§ÙÙÙÙ Ű§ÙÙŰŹÙÙÙÙŰ©Ù Ű±ÙŰ§Ù Ű§ÙŰšŰźŰ§Ű±Ù ÙÙ
ŰłÙÙ
Artinya âHendaknya kamu selalu jujur karena kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu akan membawa ke dalam surga.â HR. Bukhari dan MuslimDan oleh karena itu, Kang Muh yakin Bahwa Buya Jaâfar adalah dari penduduk surga. Istiqamah dalam ibadahâIsun bli bisa niru istiqomahe buya Jaâfar,â Begitulah pernyataan dari KH. Muh. Musthofa Aqiel saat menggambarkan sosok Buya Jaâfar yang sangat istikamah dalam beribadah, termasuk sholat tahajud. Waktu selalu beliau jadwal dan dilakukan dengan istikamah. Setiap jam 11 malam beliau istirahat dan jam 3 pagi bangun, lalu beliau sholat tahajjud dengan tak lupa mendoakan santri santrinya agar di-futuh-kan hatinya dan diberkahi hidupnya. Setiap setelah shalat Shubuh berjamaâah, Buya Jaâfar juga sangat istikamah membaca 1000 kali shalawat kepada Nabi Muhammad bersama santri-santrinya. Hal ini merupakan salah satu keistikamahan beliau yang sangat terkenang di hati para santrinya. Terlebih Buya Jaâfar pernah dawuh âDengan rajin bersholawat, yang kita usahakan dan cita-citakan, insyaallah akan tercapai.â 4. Pengabdian Mengasuh PesantrenSetelah ayahanda beliau wafat, KH. Jaâfar Shodiq Aqil Siroj diberi amanah untuk melanjutkan estafet kepemimpinan pesantren yang pada saat itu masih bernama Majlis Tarbiyatul Mubtadiin MTM yang masih merupakan satu kesatuan dengan Pondok Pesantren Kempek. Di mana seiring berjalannya waktu kemudian menjadi Pondok Pesantren KHAS Kempek, Dan untuk menaungi MTM ini, beliau bersama adik-adiknya yakni Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj, MA Ketua Umum PBNU Th. 2010-2021, KH. Moh. Musthofa Aqil Siroj, Al-Maghfurlah KH. Ahsin Syifa Aqil Siroj dan KH. Niâamillah Aqil Siroj, kemudian pada tahun 1995 mendirikan Yayasan Kyai Haji Siroj KHAS dalam perkembangan selanjutnya sekarang Yayasan tersebut memiliki beberapa unit pendidikan yakni Madrasah Tahdzibul Mutsaqofien MTM Putra dan Putri Madrasah Tsanawiyah MTsS KHAS Kempek, tahun 2002 Madrasah Aliyah MAS KHAS Kempek, tahun 2003 Sekolah Menengah Pertama SMP S KHAS Kempek, tahun 2009 Majlis Dirosah Ilmiah Al-Ghadier, tahun 2009 Sekolah Menengak Kejuruan SMK KHAS Kempek Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan STIKES KHAS Kempek Sekolah Tinggi Agama Islam STAI KHAS Kempek Di samping kesibukan KH. Jaâfar Shodiq dalam mengasuh dan mengembangkan pesantrennya, beliau juga turut aktif dalam organisasi-organisasi keagamaan, sosial maupun politik, hal ini salah satunya dibuktikan dengan kesuksesan beliau dalam menyelenggarakan dan menjadi tuan rumah MUNAS Alim Ulama dan KONBES NU pada tahun 2012 dan beberapa jabatan yang diamanahkan kepada beliau hingga ahir hayatnya, diantaranya Pengasuh Majlis Tarbiyatul Mubtadiin Pon. Pes. KHAS Kempek Ketua Yayasan KHAS Ketua MUI kabupaten Cirebon Wakil Rais Syuriah Jawa Barat 5. Referensi
Biografi KH. Muhamad Said Gedongan-Gedongan adalah nama lingkungan pesantren sekaligus juga nama sebuah dusun/blok. Pesantren Gedongan adalah salah satu Pesantren tua yang ada di wilayah timur Cirebon, tepatnya berada di Desa Ender Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon. Pada tahun 1990an, ketika Kecamatan Astana Japura dimekarkan pada tahun 2000an, Desa Ender termasuk didalamnya Dusun Gedongan masuk pada wilayah Kecamatan Pangenan. Berbicara mengenai Pesantren dan Dusun Gedongan, eksistensinya tidak dapat dipisahkan dari satu tokoh yang mendirikannya, adapun pendiri Pesantren Gedongan adalah KH Muhamad Said, Kiai asal Desa Tuk versi lain Pesawahan Sindanglaut Kabupaten Cirebon. Kiai Muhamad Said merupakan putra dari KH. Murtasim. Sebelum kedatangan KH Muhamad Said, Gedongan dikisahkan masih berbentuk hutan, Kiai Said sendiri datang ke daerah Gedongan diperkirakan pada tahun 1800an. Beliau datang bersama istri dan beberapa santri ayahnya yang sengaja ia bawa untuk membuka perkampungan Juga Kai Muhamad Said, Pendiri Pesantren GedonganMakam KH Muhamad Said GedonganIdentifikasi Masa Hidup KH. Muhamad SaidBelum ada kepastian mengenai kapan Kiai Said dilahirkan, hanya saja, berdasarkan catatan sejarah, bahwa salah satu anak KH Said, yang bernama KH Siraj dikisahkan lahir pada tahun apabila Kiai Said ketika anaknya lahir berumur 25-30 tahun, maka tahun kelahiran Kiai Said kira-kira antara tahun 1857/ masa hidup Kiai Said apabila umurnya mencapai 60 tahun, maka beliau hidup dari tahun 1857 hingga 1917, selanjutnya apabila beliau dilahirkan pada 1857, maka masa hidupnya dari tahun dari masa hidupnya Kiai Said, jelas bahwa masa hidup Kiai Said adalah pasca Perang Santri Perang Kedongdong 1806-1818, dengan demikian, masa hidup Kiai Said sebenarnya masa ketika Cirebon sudah berdamai dengan Belanda. Hanya saja memang dalam catatan sejarah, antara tahun 1913-1918 Cirebon sedang geger perang Santri Vs etnis Cina Tragedi Kucir 1913. Tidak diketahui secara pasti apakah Kiiai Said terlibat dalam peristiwa ini atau tidak, mengingat dalam sejarahnya banyak Para Kiai terkemuka yang terlibat dan menyetujui konflik dalam Tragedi Kucir 1913Silsilah KH Muhamad Said GedonganSecara silsilah, Kiai Said masih keturunan Nabi Muhamad, sebab nasab Kiai Said bersambung dengan Sunan Gunung Jati. Berikut ini adalah silsilah Kiai Said Gedongan menurut data yang penulis peroleh dari artikel "Silsilah KH. Said Aqil Siraj"."1 Muhammad Said Gedongan bin 2 KH Murtasim bin 3 KH Nuruddin bin 4 KH Ali bin 5 Tubagus Ibrahim bin 6 Abul Mufakhir Majalengka bin 7 Sultan Maulana Mansur Cikaduen bin 8 Sultan Maulana Yusuf Banten bin 9 Sultan Maulana Hasanuddin bin 10 Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati"Berdasarkan silsilah di atas, dapat dimengerti jika Kiai Said Gedongan adalah generasi kesepuluh dari keturunannya Sunan Gunung Jati Cirebon, Sultan Cirebon pertama sekaligus anggota wali Songo. Istri dan Anak KH Muhamad Said GedonganSelama hidupnya KH Muhamad Said dikisahkan hanya menikah satu kali dengan wanita yang bernama Nyai Hj Maimunah, yaitu kakak kandung dari Kiai Abas yang berasal dari Buntet Pesantren, dengan demikian istri Kai Said adalah putri dari KH Abdul Jamil bin Kiai Mutaa'd bin Mbah Muqoyim. Mengani anak-anak Kiai Said, penulis untuk sementara waktu hanya memperoleh tiga nama, yaitu 1 KH. Abdul Karim, dan 2 KH Siraj 3 Nyai Hasinah. Kelak baik anak dan cucu Kiai Siad banyak menjalin hubungan keluarga dengan beberapa Kiai ataupun pengasuh pesantren baik yang ada di Cirebon maupun di luar Cirebon seperti Pesantren Kempek, Bunten, Benda, Krapyak di Yogyakarta, Pesantren Lirboyo di Kediri dan lain sebagainya. Kedatangan KH. Muhamad Said ke GedonganAda beberapa versi seputar kedatangan Kiai Said ke Gedongan, akan tetap pada umumnya kedatangan Kiai Said kegedongan dikisahkan sambil membawa istri disertai dua orang pembantu dan 26 santri bapaknya yang bersedia mengabdi kepada Kiai Said untuk membuka perkampungan dan pesantren di suatu hutan, hutan yang dimaksud adalah semacam tanah perdikan hadiah dari Sultan oleh 26 santrinya itu, dibangun perkampungan yang nantinya disebut Gedongan. Dikampung itu pula Kiai Said mendirikan surau/tajug untuk tempat mengajarkan agama. Lambat laun Kiai Said banyak didatangi murid-murid baru hingga membentuk pesantren, selanjutnya anak cucu Kiai Said mendirikan pesantren di tempatnya masing-masing dalam wilayah dusun Gedongan sehingga jangan heran jika di Gedongan banyak sekali pesantren. Disana hampir setiap anak cucu Kiai Said mendirikan pesantrennya masing-masing. Wafatnya KH Muhamad SaidTidak ada penjelasan pasti mengenai bagaimana KH Muhamad Syaid wafat, akan tetapi banyak yang beranggapan jika KH Muhamad Said wafat secara normal karena usia. Setelah wafat Kiai Said dimakamkan di Komplek pemakaman dusun Gedongan. Makamnya hingga kini terus diziarahi oleh banyak orang, terutama para santri dari seluruh pesantren Gedongan, biasaya ziarah ke makamya dilaksanakan pada hari jumat. Baca Juga Ketika Pesantren Gedongan Ditipu
by Ibn Hakim Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj atau yang kerap disapa dengan panggilan Kang Said lahir pada 03 Juli 1953, di Desa Kempek, Palimanan, Cirebon. Beliau merupakan putra kedua dari lima bersaudara, dari pasangan KH. Aqiel Sirodj dengan Hj. Afifah binti KH. Soleh Harun pendiri Pondok Pesantren Kempek. Saudara-saudara beliau diantaranya, KH. Jaâfar Shodiq, KH. Muhamad Musthofa, KH. Ahsin Syifa dan KH. Niâ Berdasarkan silsilah nasab KH. Said Aqil Siradj, beliau merupakan dzuriyah Rasullullah yang ke-32 dengan urutan nasabnya sebagai berikutNabi Muhammad SAWFatimah Az-ZahraAl-Imam Sayyidina HussainSayyidina Ali Zainal Abidin binSayyidina Muhammad Al Baqir binSayyidina Jaâfar As-Sodiq binSayyid Al-Imam Ali Uradhi binSayyid Muhammad An-Naqib binSayyid Isa Naqib Ar-Rumi binAhmad al-Muhajir binSayyid Al-Imam Ubaidillah binSayyid Alawi Awwal binSayyid Muhammad Sohibus Saumiâah binSayyid Alawi Ats-Tsani binSayyid Ali Kholiâ Qosim binMuhammad Sohib Mirbath HadhramautSayyid Alawi Ammil Faqih Hadhramaut binSayyid Amir Abdul Malik Al-Muhajir Nasrabad, India binSayyid Abdullah Al-âAzhomatul Khan binSayyid Ahmad Shah Jalal Ahmad Jalaludin Al-Khan binSayyid Syaikh Jumadil Qubro Jamaluddin Akbar Al-Khan Al Husein binSayyid Ali Nuruddin Al-Khan Ali Nurul AlamSayyid Umdatuddin Abdullah Al-Khan binSunan Gunung Jati Syarif HidayatullahPangeran Pasarean Pangeran Muhammad Tajul ArifinPangeran Dipati Anom Pangeran Suwarga atau Pangeran Dalem Arya CirebonPangeran Wirasutajaya Adik Kadung Panembahan RatuPangeran Sutajaya Sedo Ing DemungPangeran Nata ManggalaPangeran Dalem Anom Pangeran Sutajaya ingkang Sedo ing TambakPangeran Kebon Agung Pangeran Sutajaya VPangeran Senopati Pangeran BagusPangeran Punjul Raden Bagus atau Pangeran Penghulu KasepuhanRaden AliRaden MuriddinKH. Raden NuruddinKH. Murtasim Kakak dari KH Mutaâad leluhur pesantren Benda Kerep dan BuntetKH. Said Pendiri Pesantren GedonganKH. SiradjKH. AqilProf. Dr. KH. Said Aqil Siradj Ketua PBNUKeluargaKH. Said Aqil Siradj melepas masa lajangnya dengan menikah Nyai. Nur Hayati Abdul Qodir. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai empat orang anak, diantaranya, Muhammad Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Rihab Said Aqil, dan Aqil Said Said Aqil Siradj kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri â Ayah Said â merupakan putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda.âAyah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,â kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan Khalista 2015.Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Kang Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH. Abdul Karim Mbah Manaf. Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH. Mahrus Ali, KH. Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH. Ali Maksum Rais Aam PBNU 1981-1984. Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH. Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said â panggilan akrabnya â harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. âPada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,â ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di mantan âtanah Jahiliyyahâ ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi Relasi Allah SWT dan Alam Perspektif Tasawuf. Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya â diantara para intelektual dari berbagai dunia â dengan predikat bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH. Abdurrahman Wahid Gus Dur. âGus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,â ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi di Nahdlatul Ulama NUSetelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur âmempromosikanâ Kang Said dengan kekaguman âDia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,â puji Gus Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. âKelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,â ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH. Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU â di dampingi KH Anâim Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya. âNyelenehnya pun juga sama,â ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip NU Online. âTerus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,â tegas Kiai Nawawi kepada orang yang diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun di NUKarier KH. Said Aqil Siradj terhadap NU juga begitu besar. Karier tersebut, beliau telah memulainya sejak tahun 1994-sekarang. Perjalanan karier KH. Said Aqil Siradj sebagai berikutWakil katib aam PBNU 1994-1998Katib aam PBNU 1998-1999Penasehat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia GANDI 1998Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa FKKB 1998-sekarangPenasehat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI 1998-sekarangWakil Ketua Tim Gabungan Pencari fakta TGPF Kerusuhan Mei 1998 1998Ketua TGPF Kasus pembantaian dukun santet Banyuwangi 1998Penasehat PMKRI 1999-sekarangKetua Panitia Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri 1999Anggota Kehormatan Matakin 1999-2002Rais syuriah PBNU 1999-2004Ketua Majelis Ulama Indonesia 2000-2005Ketua PBNU 2004-2010Ketua Umum PBNU 2010-2015 dengan Rais Aam KH. Sahal MahfudhKetua Umum PBNU 2015- sekarang dengan Rais Aam KH. Maâruf AminAnggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila 2017- sekarangKiprahSejak mahasiswa, Kang Said terlibat aktif di organisasi Nahdlatul Ulama NU, di antaranya adalah menjadi Sekertaris PMII Rayon Krapyak Jogjakarta 1972-1974, Yogyakarta, dan menjadi Ketua Keluarga Mahasiswa NU KMNU Mekah pada tahun 1983-1987. Selain menjadi pengurus organisasi, ia juga mempunyai kegiatan lainnya, menjadi tim ahli bahasa Indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah di tahun 1991Sekembalinya dari Timur Tengah, Kang Said makin aktif di tingkat nasional. Keahliannya dalam kajian keislaman, ia diminta menjadi dosen di berbagai kampus di dalam negeri. Di antaranya dia tercatat sebagai dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran PTIIQ, Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta pada tahun 1995. Bahkan dua tahun kemudian ia menjadi Wakil Direktur Universitas Islam berkecimpung di dunia akademisi, Kang Said juga terlibat dalam dunia gerakan lintas agama dan anti driskiminasi dengan menjadi Penasehat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia Gandi.PenghargaanBerdasarkan The Moslem 500 yang diselenggarakan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre Amman, KH. Said Aqil Siroj merupakan salah satu tokoh muslim paling berpengaruh di dunia. Peringkat beliau diantaranyaTahun 2010 menduduki peringkat ke-19Tahun 2011 menduduki peringkat ke-17Tahun 2012 menduduki peringkat ke-19Tahun 2017 menduduki peringkat ke-20Tahun 2018 menduduki peringkat ke-22Tahun 2019 menduduki peringkat Ke-20Tahun 2020 menduduki peringkat ke-19Tahun 2021 menduduki peringkat ke-18
ĂlevĂ© Ă la dure » sur une petite ferme abitibienne, François Gendron a vu son pĂšre mourir trop jeune et a dĂ» bĂ»cher fort pour faire ses Ă©tudes, un parcours qui a marquĂ© celui qui dĂ©tient le record de longĂ©vitĂ© Ă lâAssemblĂ©e nationale. Mon pĂšre Ă©tait cultivailleur. [La ferme nâĂ©tait pas rentable, il devait travailler dans une usine pour complĂ©ter ses revenus.] Quand tu fais le train le matin avant dâaller Ă lâĂ©cole du rang Ă pied, ça forme le caractĂšre », laisse tomber lâancien dĂ©putĂ© pĂ©quiste en entrevue. Dans sa biographie, il revient sur ses racines qui ont profondĂ©ment marquĂ© sa longue carriĂšre Ă lâAssemblĂ©e nationale, ses convictions sociales-dĂ©mocrates et son penchant rĂ©gionaliste. Photo courtoisie François Gendron, 42 ans de passion pour le QuĂ©bec et ses rĂ©gionsĂcrit en collaboration avec Samuel Larochelleaux Ăditions Druide De La Sarre Ă PĂ©kin En 2012, vice-premier ministre, il est reçu en grand lors dâune visite en Chine. Je nâarrivais pas Ă croire quâun petit gars du 6e et 7e Rang Ouest de La Sarre, un fils de cultivateur qui a perdu son pĂšre trĂšs jeune, ait la chance de vivre ça », Ă©crit-il. Car M. Gendron, qui a occupĂ© 11 ministĂšres durant sa carriĂšre, dont lâĂducation, ne lâa pas eu facile. Son pĂšre, Odilon Gendron, sâest Ă©tabli en Abitibi dans le cadre du plan de colonisation Vautrin et pour Ă©viter la conscription de 1940 ». DĂšs son arrivĂ©e, sa mĂšre, Marguerite Mercier, a Ă©tĂ© catastrophĂ©e en constatant les conditions de vie sur place ». Sa famille vivait une vie de paysans, sans tĂ©lĂ©vision ni beaucoup dâargent ». La toilette Ă eau est arrivĂ©e chez nous quand jâavais 12 ans. On devait faire nos besoins dehors ou dans un contenant placĂ© dans la cave », Ă©crit-il. LâĂ©cole Ă lâarrachĂ© Dire que le systĂšme scolaire de lâĂ©poque laissait Ă dĂ©sirer est un euphĂ©misme. AprĂšs son passage Ă la petite Ă©cole, ses parents souhaitaient le garder Ă la maison pour quâil travaille Ă la ferme. Un religieux, cousin de son pĂšre, convainc la famille de lâenvoyer au juvĂ©nat. Câest sa tante Isabelle qui met la main Ă la poche pour lâenvoyer au secondaire, Ă Berthierville, dans LanaudiĂšre. Photo courtoisie Fils dâagriculteur et provenant dâun milieu modeste, il sâest battu toute sa jeunesse pour ĂȘtre Ă©duquĂ©. Puis le malheur frappe. Le directeur de conscience de François Gendron arrive Ă la conclusion que le jeune homme de 17 ans nâa pas la vocation religieuse, et le met Ă la porte du collĂšge. Lorsquâil revient de Berthierville pour lâannoncer Ă ses parents, la tragĂ©die a frappĂ©. Son pĂšre est dĂ©cĂ©dĂ© dans un accident automobile causĂ© par un chauffard en Ă©tat dâĂ©briĂ©tĂ©. Il rĂ©ussit toutefois Ă convaincre les religieux de le reprendre, mais sous conditions. Il doit sâoccuper du mĂ©nage des toilettes, et nâa pas le droit de participer aux rĂ©crĂ©ations. Cette expĂ©rience mâa forgĂ© le caractĂšre et permis dâapprendre que des convictions, ça se dĂ©fend », Ă©crit M. Gendron. Camelot Ă 19 ans JusquâĂ ce quâil obtienne son brevet dâenseignement, M. Gendron devra accumuler les petits boulots pour survivre. JâĂ©tais camelot Ă 19 ans, les gens me traitaient de grand niaiseux », dit-il. Ă un moment, il dort dans un sous-sol dâĂ©glise et se lave Ă la dĂ©barbouillette. Lorsquâil est Ă©lu dĂ©putĂ© dâAbitibi-Ouest en 1976 avec la vague qui porte au pouvoir le Parti quĂ©bĂ©cois de RenĂ© LĂ©vesque, M. Gendron, enseignant et syndicaliste, porte avec lui ces expĂ©riences. Il mĂšnera un important combat pour que lâAbitibi-TĂ©miscamingue ait sa propre universitĂ©. Dans les annĂ©es 1980, il pilote une rĂ©forme du dĂ©veloppement rĂ©gional. Et le fils dâagriculteur dĂ©pose une politique de souverainetĂ© alimentaire en 2012 sous le gouvernement Marois. AnxiĂ©tĂ© Mais son parcours politique a laissĂ© des traces sur sa santĂ©. Jâai fait des crises de panique sur une base rĂ©guliĂšre entre 1983 et 1990 », Ă©crit-il. Il sâest retrouvĂ© une dizaine de fois Ă lâurgence en cinq ans. Il a toutefois repris le contrĂŽle sur sa santĂ© en recevant des soins psychologiques. Aujourdâhui, M. Gendron, qui rĂ©side Ă La Sarre, Ă quelques dizaines de kilomĂštres de son lieu de naissance, reconnaĂźt quâil a de la peine » Ă voir lâĂ©tat actuel du PQ. Il ne croit pas quâil verra lâindĂ©pendance du QuĂ©bec, Ă laquelle il croit toujours, de son vivant. Photo courtoisie M. Gendron a Ă©tĂ© honorĂ© par plusieurs premiers ministres pour sa carriĂšre politique. Mais Ă 77 ans, il continue de croire quâun jour le QuĂ©bec reprendra sa marche vers la souverainetĂ©. Je vous ferai une liste dâattachĂ©s politiques de la CAQ qui ont encore la souverainetĂ© tatouĂ©e sur le cĆur », dit-il en riant. François Gendron, 42 ans de passion pour le QuĂ©bec et ses rĂ©gions, Ă©crit en collaboration avec Samuel Larochelle, sera disponible le 5 mai, aux Ă©ditions Druide.
biografi kh said gedongan